Suara Hewan di Malam Hari: Mitos, Pertanda, hingga Penjelasan Ilmiah
Suara hewan malam hari--Dok/Net
Faktanya, burung hantu adalah predator nokturnal. Dia keluar malam karena mangsanya tikus, serangga besar, cicak juga aktif malam hari. Kalau di sekitar rumah banyak tikus akibat selokan kotor atau sisa makanan, jangan heran burung hantu mampir. Dia bukan pembawa kabar buruk, tapi pembasmi hama gratis. Justru kalau ada burung hantu, artinya ekosistem di sekitar rumah masih seimbang.
4. Laron tiba-tiba menyerbu lampu
Ini mitos yang paling dekat dengan sains. Orang tua dulu bilang, kalau laron keluar, tandanya mau hujan atau musim berganti. Dan itu benar. Laron sebenarnya adalah rayap dewasa bersayap yang keluar dari sarang untuk kawin. Mereka hanya keluar saat kelembapan udara tinggi, biasanya 1–2 jam sebelum hujan turun.
Tubuh laron tidak bisa menahan kekeringan, jadi mereka menunggu momen pas: tanah lembap, udara basah. Begitu hujan reda, mereka lepas sayap dan bikin koloni baru. Jadi laron memang “ramalan cuaca” alami yang cukup akurat.
5. Kucing berantem tengah malam
Suara kucing melengking, mencakar, dan berkejaran di atas seng sering dianggap membawa energi negatif atau bikin rezeki seret. Padahal kucing adalah hewan nokturnal dan sangat teritorial. Siang hari mereka tidur 12–16 jam, malam hari justru masa aktifnya.
Berantem itu biasanya dua hal: rebutan wilayah atau musim kawin. Kucing jantan akan bertarung sengit demi betina, dan suaranya memang seperti bayi menangis. Jadi bukan karena rumah kita “bawa sial”, tapi karena jam biologis kucing memang begitu. Kalau tidak mau berisik, solusinya sterilkan kucing dan tutup akses ke atap.
BACA JUGA:Mengatasi Overthinking di Senin Pagi: Cara Efektif Memulai Pekan dengan Pikiran Lebih Tenang
6. Burung Kedasih bersuara melengking
Burung Kedasih punya julukan “burung kemarau panjang”. Suaranya nyaring, berulang, dan terdengar sayup di siang atau malam. Kepercayaan lama menyebut kedasih sebagai pertanda paceklik, susah pangan, atau kesedihan.
Penjelasan ilmiahnya sederhana, musim kawin burung Kedasih memang jatuh di puncak musim kemarau, sekitar Juli–Oktober. Di musim itu serangga sebagai pakan utama lebih sedikit, jadi kedasih harus rajin berbunyi untuk memanggil pasangan dan mempertahankan wilayah. Karena bunyinya pas di musim susah, orang dulu mengaitkan keduanya. Padahal kedasih tidak menyebabkan kemarau, dia hanya beradaptasi dengan kemarau.
Jadi, harus percaya yang mana?
Sumber:




