Disway banner

Suara Hewan di Malam Hari: Mitos, Pertanda, hingga Penjelasan Ilmiah

Suara Hewan di Malam Hari: Mitos, Pertanda, hingga Penjelasan Ilmiah

Suara hewan malam hari--Dok/Net

Nenek moyang kita hidup sangat dekat dengan alam. Belum ada BMKG, belum ada CCTV. Cara mereka membaca situasi adalah lewat pola: kapan burung bunyi, kapan laron keluar, kapan anjing resah. Dari pengamatan berulang, lahirlah cerita. Cerita itu lalu dibungkus dengan makna spiritual supaya mudah diingat dan diwariskan. Itu bentuk kearifan lokal, bukan kebodohan.  

Sains hari ini membantu kita memisahkan mana sebab-akibat biologis, mana yang sekadar kebetulan. Ayam berkokok karena lampu, bukan karena kuntilanak. Tapi bukan berarti mitos harus dibuang. Dari mitos kita belajar bahwa manusia dulu sangat peka terhadap perubahan kecil di alam. Kepekaan itu yang kini mulai hilang karena kita terlalu banyak di dalam ruangan ber-AC.  

Kesimpulannya, suara hewan di malam hari punya dua sisi: pesan alam dan pesan budaya. Kalau dengar anjing menggonggong, cek dulu apakah ada tikus atau tamu asing. Kalau laron menyerbu, siap-siap jemuran diangkat karena mau hujan. Kalau burung hantu nongkrong, bersyukur saja, berarti populasi tikus di sekitar rumah terkendali.  

Takut boleh, tapi jangan sampai panik berlebihan. Kenali polanya, pahami ilmunya, hargai ceritanya. Karena pada akhirnya, manusia, hewan, dan alam memang saling bicara setiap malam, hanya saja kita yang kadang lupa cara mendengarkannya.  

Dengan begitu, malam tidak lagi menyeramkan. Ia justru jadi waktu terbaik untuk belajar bahwa semua makhluk punya peran, dan setiap suara punya alasan.

Sumber: