Jaga Kualitas Kopi, Petani Disarankan Tidak Jemur Kopi di Tanah

Jaga Kualitas Kopi, Petani Disarankan Tidak Jemur Kopi di Tanah

RK ONLINE - Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang ikut rapat pembahasan Raperda tentang peningkatan kualitas mutu budidaya kopi Kepahiang bersama Panitia Khusus (Pansus) II DPRD Kepahiang. Dalam pembahasan bersama Pansus, Rabu (24/06/2020) Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Kepahiang, Deva Yurita, SP menyampaikan, sejauh ini Dinas Pertanian dalam menjaga kualitas mutu kopi memperhatikan mulai dari budidaya sampai ke pasca panen dan pengolahan kopi. Kemudian tekhnik budidaya, pemeliharaan, penggunaan pupuk herbisida hingga penjemuran sesuai dengan standar operasional mutu. "Seperti pada program peningkatan produktivitas kopi penggunaan bibit unggul, entre kopi klon unggul yang sudah bersertifikat. Yakni, klon kopi Sehasen C, Sintaro I, II, serta III," jelas Deva. Diakui Deva, petani kopi masih terkendala dalam hal media jemur. Padahal metode serta media jemur juga menentukan kualitas kopi. "Modifikasi rumah penjemuran dengan ekonomis dapat dibuat masyarakat menggunakan kontruksi kayu atau bambu beratapkan plastik, fungsinya sama biaya lebih terjangkau. Kopi merah yang dihasilkan petani tidak bisa menghasilkan mutu yang baik jika dalam penjemurannya kurang baik," papar Deva. Penjemuran kopi menjadi perhatian khusus karena itu petani disarankan petani untuk  menggunakan media penjemuran yang baik dan tidak dijemur di tanah. "Karena kopi bersifat sensitif dapat menyerap bau, rasa sehingga tidak disarankan dijemur di tanah atau tempat sembarang, ini juga mempengaruhi kualitas mutu kopi. Sudah ada beberapa teknologi penjemuran yang digunakan antara lain rumah penjemuran atau solar dryer dome," jelas Deva. Upaya metode penjemuran tersebut lanjut Deva, belum sepenuhnya diterapkan seluruh petani kopi sehingga tidak jarang hasil kopi petani menghasilkan kualitas tidak bagus. Meski solar dryer dome hanya dari bantuan Kementerian Pertanian waktu lalu, pihaknya menyarankan petani dapat memodifikasi alat jemur yang lebih murah untuk diterapkan petani. Pewarta : Reka Fitriani Editor     : Candra Hadinata 

Sumber: