Harga Dexlite dan Pertamina Dex Masih Tinggi, Ini Update Terbaru per 29 April 2026
Update Harga Dexlite dan Pertamina Dex--FOTO/TANGKAPAN LAYAR
Radarkepahiang.id - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar non-subsidi dari PT Pertamina (Persero) masih bertahan di level tinggi hingga akhir April 2026. Dua produk utama, yakni Dexlite dan Pertamina Dex, belum menunjukkan perubahan sejak penyesuaian besar yang dilakukan pada pertengahan bulan ini.
Berdasarkan data terbaru hingga 29 April 2026, harga Dexlite berada di kisaran Rp23.600 per liter, sementara Pertamina Dex mencapai sekitar Rp23.900 per liter untuk wilayah Jawa dan sebagian Sumatera.
Harga tersebut merupakan hasil penyesuaian yang mulai berlaku sejak 18 April 2026, di mana kedua jenis BBM diesel ini mengalami kenaikan signifikan hingga sekitar Rp9.400 per liter dibandingkan harga sebelumnya.
BACA JUGA:Update Harga BBM 29 April 2026: Pertamax Cs Masih Stabil, Masyarakat Diminta Bijak Konsumsi
Kenaikan Signifikan dalam Waktu Singkat
Lonjakan harga Dexlite dan Pertamina Dex pada April 2026 menjadi salah satu yang paling tajam dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, Dexlite masih berada di kisaran Rp14.200 per liter, sementara Pertamina Dex di angka Rp14.500 per liter.
Kini, kedua jenis BBM tersebut melonjak lebih dari 50 persen, mengikuti tren kenaikan harga minyak dunia serta faktor geopolitik global yang memengaruhi pasokan energi.
Harga Berbeda di Tiap Wilayah
Meski secara umum harga berada di kisaran Rp23 ribuan, terdapat perbedaan harga di sejumlah daerah. Di beberapa wilayah luar Jawa, harga Pertamina Dex bahkan bisa mencapai Rp24.450 hingga Rp24.950 per liter, sedangkan Dexlite berada di kisaran Rp24.150 hingga Rp24.650 per liter. Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor distribusi, pajak daerah, serta biaya logistik yang berbeda di tiap provinsi.
Belum Ada Penyesuaian Baru
Hingga akhir April 2026, belum ada sinyal penurunan harga dari pihak Pertamina. Artinya, harga Dexlite dan Pertamina Dex masih mengacu pada kebijakan yang ditetapkan sejak 18 April lalu. Kondisi ini membuat para pengguna kendaraan diesel, terutama di sektor transportasi dan logistik, harus menyesuaikan kembali biaya operasional mereka.
Sumber:




