Radarkepahiang.id - Tak jarang dalam kehidupan sehari-hari, kita bertemu dengan orang yang sikapnya melelahkan. Entah itu teman, rekan kerja, bahkan orang terdekat. Ada yang gemar menyalahkan, sulit diajak komunikasi, atau justru sering menciptakan suasana negatif. Situasi seperti ini kerap disebut sebagai berhadapan dengan orang problematik atau toksik. Meski istilahnya populer di media sosial, kondisi ini nyata dan bisa berdampak pada kesehatan mental.
BACA JUGA:Ini 3 Cara Menabung Supaya Uang Cepat Ngumpul Teori Belajar dari Orang Jepang!
BACA JUGA:Grebek Tempat Hiburan Malam dan Kos-kosan, Polres Kepahiang Tekan Peredaran Narkoba!
Melansir YourTango, orang yang bersifat toksik biasanya menunjukkan perilaku manipulatif, melelahkan secara emosional, dan cenderung mementingkan diri sendiri. Mereka juga kerap menciptakan tekanan bagi orang di sekitarnya.
Perilaku ini memang bukan diagnosis medis, tetapi bisa berkaitan dengan masalah psikologis tertentu, seperti gangguan kepribadian atau kondisi emosional yang tidak stabil.Lalu, bagaimana cara menghadapinya tanpa ikut terseret?
Berikut beberapa hal yang bisa kamu terapkan:
1. Kenali tanda-tandanya lebih dulu
Langkah pertama adalah menyadari situasi. Mengutip WebMD, beberapa tanda saat berhadapan dengan orang problematik antara lain merasa dimanipulasi, sering bingung dengan sikapnya, terus-menerus merasa bersalah, hingga tidak pernah merasa nyaman saat berada di dekatnya.Jika kamu sering merasakan hal tersebut, bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan orang yang tidak sehat secara emosional.
BACA JUGA:Geger! Pria Paruh Baya Ditemukan Tak Bernyawa di Pondok Kebun
BACA JUGA:Kombinasi Ternak dan Sayuran Cepat Panen, Ini 3 Konsep Urban Farming
2. Berani bicara, tapi tetap tenangMenghindari konflik memang terasa lebih aman, tetapi bukan berarti harus selalu diam. Cobalah menyampaikan ketidaknyamanan secara langsung saat ada perilaku yang mengganggu.Tetap jaga cara penyampaian dengan komunikasi asertif, tenang, jelas, dan tidak menyalahkan. Cara ini jauh lebih efektif dibanding emosi yang meledak-ledak.
3. Jangan mudah terpancing reaksiOrang problematik sering memicu emosi orang lain, entah untuk mencari perhatian atau ingin 'menang' dalam situasi. Karena itu, penting untuk mengelola respons diri. Kamu mungkin tidak bisa mengubah orang lain, tetapi kamu bisa mengontrol bagaimana bereaksi. Tetap tenang justru bisa meredakan konflik sebelum membesar.
BACA JUGA:Pengganti Gula untuk Menurunkan Berat Badan, Apakah Benar-benar Aman?
BACA JUGA:Simak Manfaatnya Meminum Campuran Minyak Zaitun dan Lemon Setiap Pagi
4. Tetapkan batasan yang jelas
Salah satu kunci penting adalah menetapkan boundary. Misalnya, membatasi topik pembicaraan, frekuensi bertemu, atau cara mereka memperlakukanmu.Orang yang terbiasa bersikap toksik mungkin tidak menyukai batasan ini, bahkan bisa membuatmu merasa bersalah. Namun, menjaga batas tetap penting untuk melindungi diri.
5. Coba pahami, tapi jangan membenarkanPendekatan empati dapat membantu. Cleveland Clinic menyebut, memahami bahwa seseorang mungkin sedang menghadapi stres atau masalah pribadi bisa meredakan ketegangan.
BACA JUGA:Simak! Ini 5 Buah yang Tidak Boleh Dicampur untuk Jus
BACA JUGA:Soal Rencana Penarikan Penyertaan Modal pada Bank Bengkulu, Ini Kata Ketua DPRD Kepahiang!
6. Fokus pada diri sendiri berhadapan dengan orang problematik sering menguras energi. Karena itu, penting untuk kembali fokus pada diri sendiri. Bangun relasi yang sehat, cari lingkungan suportif, dan jangan ragu mencari bantuan profesional jika diperlukan.
7. Jika perlu, jaga jarakJika berbagai cara sudah dilakukan tetapi situasi tetap tidak sehat, menjaga jarak bisa menjadi pilihan. Dalam beberapa kondisi, membatasi interaksi atau bahkan menjauh adalah langkah paling realistis untuk menjaga kesehatan mental.