Melonjak, Kota Bengkulu Alami Inflasi 1,22 Persen

Melonjak, Kota Bengkulu Alami Inflasi 1,22 Persen

DOK/RK : INFLASI : Statistik perkembangan inflasi Kota Bengkulu di bulan September 2022--

RK ONLINE - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat pada September 2022 terjadi lonjakan angka inflasi di Kota Bengkulu sebesar 1,22 persen dari bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,24 persen. Dengan angka ini Kota Bengkulu menepati posisi nomor 29 nasional dan diurutan ke-8 dari 24 kota yang ada di pulau Sumatera.

"Bengkulu mengalami inflasi sebesar 1,22 persen diatas angka nasional yakni 1,17 persen," kata Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Ir. Win Rizal, ME dalam pers rilis data statistik bulan kemarin (3/10).

Ia menambahkan, angka inflasi September 2022 termasuk angka yang tinggi selain terjadi pada bulan April 2022 lalu yang berada diangka 1,45 persen. 

"Dari tahun 2019 hingga 2021 angka inflasi ini termasuk yang tertinggi karena diatas persentase 1, tahun 2022 ini relatif tinggi," tutur Win Rizal. 

Dengan angka inflasi ini, secara kumulatif hingga September 2022 besaran inflasi Bengkulu diangka 5,77 persen (September 2022 terhadap Desember 2021). Sedangkan Inflasi tahun ke tahun (yoy) mencapai angka sebesar 6,71 persen. 

"Lonjakan kenaikan inflasi ini secara garis besar disumbangkan oleh kenaikan BBM. Dampak kenaikan BBM ini tidak hanya di komoditi tapi juga pada sektor seperti transportasi, baik angkatan dalam kota, antar provinsi, maupun travel. Intinya inflasi  September dipengaruhi langsung oleh komoditi-komoditi yang berkaitan dengan bahan bakar," tambahnya.

Secara rinci sektor yang menyumbang inflasi yakni kelompok trasportasi sebesar 8,8 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,40 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,20 persen, kelompok penyedia makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,26 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,11 persen, dan kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,10 persen. 

Sedangkan kelompok yang mengalami deflasi yakni kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,38 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,89 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,20 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,30 persen,

"Sedangkan pengeluaran pendidikan mengalami kestabilan pada bulan September lalu," sampainya.

 

BACA JUGA:Pemprov Tidak Usulkan Seleksi PPPK, 524 Guru Batal Diangkat

 

Ia berharap kedepanya tidak terjadi perubahan atau kenaikan komoditi saat adanya kenaikan atau perubahan transport. Seperti halnya harga BBM di September yang tidak berdampak pada harga komoditas atau sembako. 

"Mudah-mudahan tidak terdampak, dan kita lihat di September bahan makanan justru mengalami deflasi. Karena sebenarnya yang terdampak langsung oleh kenaikan BBM menjadi komoditi penyumbang inflasi," singkatnya.

Sumber: