5 Efek Kolesterol Tinggi pada Tubuh, Begini Cara Mencegahnya!

Sabtu 11-07-2026,15:06 WIB
Reporter : Reka Fitriani
Editor : Hendika

Radarkepahiang.id - Menginjak usia dewasa, penting mengetahui apa saja efek kolesterol tinggi untuk menjaga kadar kolesterol tubuh selalu stabil. Akibat kolesterol tinggi cukup berbahaya karena dapat memengaruhi organ lain, seperti jantung, otak, hingga pembuluh darah.

 

Dalam istilah medis, peningkatan kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida terlalu drastis disebut hiperkolesterolemia. Kondisi ini dapat memicu penumpukan yang mempersempit arteri koroner, sehingga risiko serangan jantung dan stroke meningkat signifikan.

BACA JUGA:116 Ha Lahan Eks HGU PT. TUMS Terancam Tak Bisa Ditata Kembali!

BACA JUGA:Kepahiang Dapat Bantuan 25 Ton Benih Padi, Dongkrak Program LTT 1.000 Ha Sawah!

 

Apa itu Kolesterol Tinggi?


Kolesterol tinggi adalah kondisi saat kadar kolesterol dalam darah melebihi batas normal, yaitu di atas 200 mg/dL untuk kolesterol total dan di atas 100 mg/dL untuk LDL.
Kondisi yang juga disebut hiperkolesterolemia ini umumnya tidak memicu gejala langsung sehingga hanya terdeteksi lewat pemeriksaan darah (lipid panel).


Berdasarkan data Riskesdas Kementerian Kesehatan RI (2018), sekitar 28% penduduk di Indonesia yang berusia di atas 15 tahun memiliki kadar kolesterol di atas batas normal. Angka ini cukup mengkhawatirkan, mengingat dampak kolesterol tinggi dapat menyerang berbagai organ vital.

BACA JUGA:Hari Pertama Sekolah, Bupati Nata Instruksikan ASN Antar Anak Dulu, Kerja Boleh Telat!

BACA JUGA:Pemkab Kepahiang Optimis Tanah Negara Eks PT. TUMS Bisa Dimanfaatkan untuk Fasilitas Umum!


Waspadai Efek Kolesterol Tinggi
Kolesterol adalah zat lemak yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung fungsi membran sel, saraf, produksi hormon, hingga kesehatan otak. Meski begitu, ketika kadarnya berlebihan, kolesterol berubah menjadi ancaman senyap.
Kolesterol tinggi umumnya tidak bergejala langsung. Beragam keluhan, seperti lelah, sesak napas, nyeri dada, atau kesemutan biasanya menjadi tanda komplikasi pada fungsi organ.


Meski ciri-ciri fisik, misal xanthelasma (penumpukan lemak di kelopak mata) atau xanthoma (penumpukan lemak di bawah kulit) mungkin muncul pada penderita kolesterol tinggi yang diturunkan keluarga (hiperkolesterolemia familial), gejala ini sering kali tidak terjadi pada kebanyakan orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi.

BACA JUGA:Perluas Jaminan Kesehatan, Dinsos Kepahiang Usulkan 5.800 Peserta PBI-JK

BACA JUGA:Lakukan Pendampingan Terhadap Ibu dan Anak Korban Asusila, DPPKBP3A Gandeng Psikologis Klinis!

 

1. Aterosklerosis


Aterosklerosis menjadi akar dari sebagian besar komplikasi kolesterol tinggi. Penumpukan kolesterol LDL pada dinding arteri memicu terbentuknya plak, yang lambat laun membuat pembuluh darah menjadi sempit dan kehilangan kelenturannya.
Plak akan terbentuk perlahan tanpa gejala. Bahaya muncul ketika plak pecah dan memicu gumpalan darah yang memicu stroke atau serangan jantung.


2. Penyakit Jantung Koroner


Penyakit jantung koroner terjadi ketika plak kolesterol menumpuk pada arteri koroner, yakni pembuluh darah vital yang menyuplai nutrisi ke jantung. Hal ini menyebabkan aliran darah ke otot jantung terhambat.
Gejala awal biasanya berupa angina atau nyeri dada yang terasa ketika melakukan aktivitas fisik intens. Jika penyumbatan terjadi secara total, serangan jantung bisa terjadi dan berisiko merusak jaringan otot jantung secara permanen.

BACA JUGA:Ini Ciri-Ciri Mr X yang Ditemukan Tewas di Sungai Air Ketapang Kepahiang


3. Stroke
Salah satu efek kolesterol tinggi adalah memicu stroke iskemik yang menyumbat arteri otak. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian sel otak akibat terputusnya aliran darah.
Menurut WebMD (2025), penyumbatan pembuluh darah memicu 87% kasus stroke iskemik, yang berisiko menyebabkan kelumpuhan, gangguan bicara, hingga kematian.


4. Penyakit Arteri Perifer
Efek penumpukan plak akibat kolesterol juga bisa menyerang pembuluh darah di lengan dan kaki. Penyakit arteri perifer atau peripheral artery disease (PAD) muncul ketika arteri di kaki mengalami penyumbatan, sehingga sirkulasi darah ke bagian bawah tubuh terganggu.
Gejala khasnya adalah klaudikasio intermiten, kondisi yang ditandai dengan kram atau nyeri betis saat berjalan dan hilang saat istirahat. Pada kondisi berat, luka di kaki jadi sulit sembuh dan dapat berujung amputasi.

BACA JUGA:Selain Menelan Korban Lansia, Kebakaran Tragis di Kepahiang Sebabkan Kerugian Hingga Rp300 Juta!


5. Hipertensi
Ketika arteri kehilangan elastisitas karena penumpukan plak, jantung harus memompa lebih keras untuk mendorong darah melewatinya. Hasilnya, kondisi ini bisa menimbulkan tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Hipertensi dan kolesterol tinggi adalah kombinasi berbahaya yang saling memperparah satu sama lain. Apabila keduanya muncul bersamaan, risiko penyakit jantung, seperti serangan jantung dan stroke, meningkat secara drastis.

Kategori :